Hikmah Kemuliaan Bulan Ramadhan dan Kisah Hamba yang Dapat Ampunan Sabtu, 28/02/2026 | 14:34
Foto ilustrasii internet
Berkabarnews.com, Pekanbaru - Dalam kitab Irsyad al-'Ibad karya Syekh Zainuddin al-Malibari dikisahkan tentang seorang laki-lakiyang menjadi contoh keagungan bulan Ramadhan, mampu mengubah garis takdir seseorang. Laki-laki tersebut bernama Muhammad yang kehidupan spiritualnya sangat memprihatinkan.
Laki-laki ini sering meninggalkan shalat dan hanya melakukannya sesekali saja. Namun, begitu memasuki bulan suci Ramadhan, Muhammad berubah total, termasuk penampilannya dengan mengenakan pakaian-pakaian terbaik yang mewah, memakai wewangian, dan shalat dengan tertib.
Laki-laki ini juga sibuk berpuasa dan meng-qadha shalat-shalat yang pernah ia tinggalkan di bulan-bulan sebelumnya. Melihat perubahan drastis tersebut, seseorang bertanya kepadanya, “Mengapa engkau melakukan ini?”
Muhammad menjawab: “Ini adalah bulan taubat, bulan rahmat, dan bulan berkah. Semoga Allah berkenan mengampuni dosa-dosaku dengan kemurahan-Nya.”
Tak lama setelah itu, Muhammad wafat. Dalam sebuah mimpi, sang perawi kisah ini bertemu dengannya dan bertanya, “Apa yang Allah lakukan terhadapmu?”
Muhammad menjawab dengan bahagia: “Allah telah mengampuniku karena penghormatanku terhadap kemuliaan bulan Ramadhan.” (Zainuddin al-Malibari, Irsyadul ‘Ibad Ila Sabilir Rasyad, [Jeddah, Darul Minhaj: 2018], halaman 265)
Perubahan hidup Muhammad dan ampunan yang ia peroleh bukanlah sebuah kebetulan. Hal ini mengingatkan kita pada sebuah hadits yang menegaskan betapa dahsyatnya kekuatan ibadah di bulan Ramadhan jika dilakukan dengan iman dan kesungguhan.
Dalam sebuah hadits disebutkan yang artinya, “Bulan Ramadhan adalah bulan yang Allah wajibkan atas kalian untuk berpuasa, dan aku sunnahkan bagi kalian shalat malam (qiyam). Maka barangsiapa yang berpuasa dan shalat malam di dalamnya karena iman dan mengharap pahala (dari Allah), maka ia keluar dari dosa-dosanya seperti pada hari ibunya melahirkannya.” (HR. Ibnu Majah)
Mengenai maksud kalimat "keluar dari dosa-dosanya seperti hari ibunya melahirkannya", Syekh Muhammad al-Amin al-Harari (wafat 1441 H) dalam karyanya Syarah Sunan Ibnu Majah memberikan penjelasan, “Maksudnya: Ia kembali (suci) dari dosa-dosa kecilnya; karena dosa-dosa besar tidaklah diampuni kecuali dengan taubat atau semata-mata karena karunia (fadhilah) Allah Ta’ala.
Makna yang tampak (zahir) dari hadis ini adalah keumuman (mencakup semua dosa).” (Syarah Sunan Ibn Majah, [Jeddah, Darul Minhaj: 2018], jilid VIII, halaman 193)
Penjelasan al-Hariri ini memberikan harapan besar kepada umat Islam bahwa meski secara kaidah asal dosa besar membutuhkan taubat khusus, melalui kemuliaan Ramadhan, karunia Allah yang murni bisa saja menghapuskan segala dosa secara umum bagi mereka yang benar-benar mengagungkan bulan ini.
Kisah Muhammad adalah pengingat, jangan pernah memandang rendah siapa pun yang sedang berusaha mendekat diri kepada Allah di bulan Ramadhan, meskipun masa lalunya kelam. Jika seorang ahli maksiat saja bisa mendapatkan ampunan hanya karena menghormati kesucian bulan ini, bagaimana dengan kita yang berusaha menjaga ibadah sepanjang tahun?**/dikutip dari NU Online